Kawan, ini Cerpen yang masuk Finalis lomba pena cerdas KFC... ga menang sih, cuma ya mau share aja.... kalu ada brand KFC di dalemnya, itu semata2 karena tuntutan syarat aja, so jangan Heran!! ^^
Seratus Meter dari Restoran MahaKaya Itu
Ketiga orang itu panik melihat tubuhnya terkapar lemas. Sayup-sayup terdengar lenguhan nafasnya bergetar pelan, sampai tak terdengar sama sekali.
“Gimana nih bang, kok sampe mati gini?” suara itu memberat, bergetar.
Langit senja membahana, kali ini warnanya kelabu. Seolah bumi dan langit memberi tanda. Sorot mata gadis itu melemah. Raganya remuk di pangkuan jalan.
Tangannya menjatuhkan boneka kecil yang sedari tadi ia genggam.
***
Nifah menyandarkan tubuhnya pada tembok bangunan. Panas menyengat, tak membuatnya bergeming. Gadis lima belas tahun ini terlahir dari keluarga terpuruk yang terkucilkan. Setiap sudut jalan yang ramai pengunjung, dia lakoni peran sebagai gadis kecil dengan segenggam gelas softdrink yang memelas meminta santunan dari setiap orang yang lalu lalang. Bau keringat, debu yang melekat tidak dia hiraukan karena memang ini bagian dari aset sempurna untuk melengkapai tubuhnya agar terlihat memprihatinkan. Dalam kemiskinan yang mendera ini, dia masih bertahan hidup. Tak pernah sekalipun dia mencicipi daging impor dari sebuah restoran untuk mereka yang MahaKaya, seratus meter di depan tempatnya duduk.
Tatapannya sayu, membuat para pejalan kaki yang lewat di depannya iba, lalu jatuhlah beberapa gemerincing koin logam mengisi gelas softdrink bekas. Nifah tersenyum. “Terima kasih pak, moga diberkahi”.
Nifah tidak peduli apa kata orang, mengemis yang katanya pekerjaan orang-orang malas, mengganggu pejalan kaki atau bahkan orang-orang yang berbohong hanya untuk mendapat untung lebih berlipat daripada berjualan. Kalaupun mereka peduli padanya, Nifah tidak harus berada di tempat ini. Dunia mungkin tidak berpihak padanya. Gadis kecil ini justru berada di dunia kelabu yang keras. Sedikitpun ia tidak mendapat tempat untuk kebebasan.
***
Senja tiba. Di bawah kaki-kaki beton raksasa nan-angkuh yang menopang kendaraan berat beroda dengan alas kasar, Nifah beranjak kembali ke peraduannya. Tempat itu disulap menjadi perkampungan kecil yang diisi orang-orang senasib. Sandal jepit yang dipakainya terseok-seok membawanya pulang.
Sambutan hangat sesosok makhluk kecil di depan gang membuat hari-harinya yang begitu berat seolah hilang. Dedek, adik lelaki satu-satunya itu merupakan mozaik berharga yang membuatnya tetap bertahan.
“Kakak hali ini Beli apa buat dedek?” tanyanya polos merengek. Nifah tersenyum, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil kembang gula yang dibelinya saat perjalanan pulang. Dedek begitu senang dengan pemberian itu, serta merta dipeluknya tubuh sang kakak yang kumal, menarik tangannya, pulang.
***
Ibu sudah tiga tahun pergi. Wanita itu meninggalkan hutang yang tidak sedikit. Pak Har yang menjadi penadah hutangnya berulang kali ‘menjenguk’ Nifah untuk menagih. Bergidik Nifah dibuatnya. Lelaki sangar tak berperasaan itu acapkali memaki dengan gaya khas seperti makhluk jadi-jadian yang meminta nyawa. Dari mulutnya terlontar ancaman seandainya Nifah belum bersedia melunasinya, karena memang dia tak mampu.
“Hutang Ibumu terlalu banyak! Aku tidak peduli, sekarang kau yang bertanggungjawab atas semua pembayaran ini!”
Ada titik jenuh setiap kali makian dan ancaman terus menerus dilontarkan Pak Har. Hanya saja, Nifah tersudut sebagai pihak bersalah yang tidak berhak melawan.
Tuhan, kapan aku selesai diuji?
Sampai hati ibunya pergi meninggalkan anaknya dengan warisan uang berlimpah. Ya, uang berlimpah yang dia dapatkan dari berhutang, yang kini menjadi awal penderitaan Nifah.
***
“Kakak, tadi Dedek liat di tv ada ayam goleng enak, ada di KFC. Dedek mau, beliin yah?” dengan nadanya yang cadel Dedek merengek.
Permintaan yang sungguh berat buat Nifah. Berulang kali dia menghela nafas.
“Dek, yang di tv itu ‘gak enak lho, harganya mahal lagi. Mendingan kita beli nasi goreng Pak Taher di seberang jalan, mau kan?” Nifah berusaha membujuk adikknya.
“Kakak bohong, masa’ altis makan yang ga enak? Itu di tv aja, makannya senyum-senyum gitu”
“Tapi dek…”
“Kakak Jahat, ga sayang Dedek!”
Dedek memotong. Raut wajahnya mengerut, hampir saja dia menangis. Nifah menyerah.
“Iya deh, kakak beliin, tapi gak hari ini loh, nanti, kakak mesti nabung dulu.”
Mendengar itu, Dedek kembali tersenyum. Tanpa banyak protes pun, dia mengerti meski kakaknya menjawab dengan kata ‘nanti’.
***
Ribuan orang yang berlalu lalang memadati tempat Nifah duduk. Hanya segelintir yang menatap iba dirinya, kemudian merogoh saku demi mengeluarkan receh yang bergemerincing. Seratus meter dari tempatnya duduk, persis berdiri restoran MahaKaya KFC. Selama ini, dia tidak pernah peduli tempat itu, bagi Nifah KFC hanyalah tempat khusus orang-orang bersepatu, berpakaian resmi nan modis, dan terlihat berduit. Kali ini, demi memenuhi keinginan adiknya, Nifah mencoba mendekati restoran cepat saji itu, untuk sekedar observasi. Jendela kacanya transparan, memamerkan isi di dalamnya. Meja yang tersusun rapi dengan pelayan-pelayan dengan seragam khusus, Yang paling menarik perhatiannya yaitu replika patung ayam raksasa setinggi orang dewasa dengan perut buncit. Belakangan dia tahu namanya Chaki, dan dia jantan.
Orang-orang disana sibuk menggigiti ayam goreng dengan balutan tepung yang dia sendiri tidak pernah tahu berapa lapis tebalnya dari kulit, belum lagi suara berisik menyedot minuman berwarna coklat di dalamnya, dengan gelas softdrink persis sama dengan yang dipakainya menadahkan uang . Seketika Nifah tergoda, restoran MahaKaya itu memang ajaib di penglihatannya.
***
Cukup lama Nifah mematung di depan kaca, hingga akhirnya dia kembali. Hebatnya… pikiran Nifah melayang. Pantas saja Dedek begitu bersikeras minta dibelikan.
Gemerincing logam di gelas bekas softdrinknya membuyarkan lamunan. Nifah sekarang mengharap ada orang dermawan melemparkan kertas merah seratus ribuan ke arahnya. Hanya berangan-angan.
“Hei, melamun aja! Mikirin apa sih?”
Hardi, teman sesama pengemis mengagetkannya. Nifah terdiam. Matanya seolah tertarik ke arah restoran MahaKaya itu, dan membuat sedikit penasaran Hardi.
“Mikirin bisa makan di tempat itu ya? Jangan mimpi! Kita ni orang kecil, makan aja udah untung! Cuma orang berduit yang bisa kesana. Udah ah, bangun!”
Kata-katanya tajam, tapi pasti.
“Gembel macam kita gak akan dapat tempat,” tambahnya.
“Kemaren adikku merengek, pengin banget ayam goreng KFC katanya. Aku jadi bingung.”
Sorot mata Nifah kembali dalam realita sebagai pengemis dengan gemerincing uang receh. Ada benarnya juga mungkin. Lambat laun dia memahami arti kata ‘gembel’. Seseorang dengan batas teritorial antara si Kaya dan si Miskin, dan itu mutlak.
***
Nifah hampir saja melupakan janjinya pada Dedek, kalau saja Dedek tidak mengingatkannya lagi.
“Mana kak, udah seminggu Dedek tungguin, ko kakak ga bawa ayam golengnya?”
“Nanti” Ujarnya pendek.
Dedek menanggapinya dengan kecewa.
“Tapi kakak gak lupa kan? Kakak sayang kan sama Dedek?”
Luluh dia mendengarnya.
Kali ini Nifah tidak dapat berkata-kata. Bohlam lima watt yang meneranginya seolah redup. Lama dia memandangi Dedek, satu-satunya mozaik kehidupan yang dia miliki.
Lidahnya kelu. Apa salahnya membuat Dedek tersenyum? Aku tidak punya apa-apa lagi selain dia. Biarlah, hanya untuknya aku akan berusaha.
***
Pukul dua belas. Matahari menyengat, samar-samar hanya dilindungi segumpal awan kecil. Langit tampak pelit hari ini. Nifah masih di tempat duduknya,tetap dengan gelas bekas softdrinknya yang setia, sambil menatap seratus meter dari jarak pandangnya.
Dua puluh lima ribu. Mungkin cukup untuk membeli satu porsi.
Nifah menghela nafas panjang. Dikuatkannya hati untuk melangkah maju.
“Di, temani aku ke restoran MahaKaya itu ya?”
Hardi terdiam. Istilah minder lebih tepat digambarkan dalam suasana hatinya. Kumal dan berdebu, dari dandanan ini pun terlihat mencolok bahwa tak pantas dia beranjak.
“Demi adikku!” pinta Nifah lagi.
Hardi menggeleng. “Lebih baik kau urungkan niatmu, Nif. Kau lupa dengan apa yang kukatakan tempo hari? Kita ni orang kecil, digebuk satpam baru tahu rasa kau!”
Bisa saja Nifah pergi sendiri tanpa Hardi, tapi keraguan memang masih menyelimuti dirinya. Setidaknya, dia perlu back-up.Nifah tak habis akal.
“Tolonglah Di. Temani aku kesana, sebentar saja. Bagaimana kalau lima puluh persen hasil kerjaku hari ini kubagi?”
Hardi masih diam.
“Baiklah, seratus persen!!” hilang sudah kesabarannya. Bisa jadi, hari ini mungkin akan jadi hari sial dalam hidup Nifah. Dirampok teman sendiri. Sedetik kemudian Nifah mengamati raut wajah sahabatnya itu. Senyum licik tersungging begitu indah, cerah sekali ketika Nifah mengucapkan kalimat berduit.
Sial!
Nifah menggerutu dalam hati, Matre juga kawanku yang satu ini.
***
Biasanya, satpam akan selalu membuka pintu jika ada pelanggan masuk. Intinya, dia tidak mau pelanggan bersusah payah mendorong. Sebuah service yang khas. Namun tidak bagi pelanggan kumal macam Nifah dan Hardi. Satpam itu menatap mereka risih.
“Mau apa kalian berdua? Ini bukan tempat gembel, pergi!” hardiknya keras.
Nifah sempat bergetar menelan hardikannya. Dijawabnya dengan polos.
“Kami mau masuk pak. Beli ayam goreng.”
Satpam itu melirik sinis, tatapannya seolah mengejek.
“Tolonglah pak!”, ucap Nifah memelas.
“Lebih baik kalian pergi, tamu-tamu disini terganggu jadinya.”
Pria kekar ini hampir membuat semangat Nifah kendur.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi, haruskah dia mundur?
Nifah nekat, dia menerobos masuk, segera mendekati pelayan cantik bertopi merah tanpa tutup di kepala itu. Biarkan saja, aku tidak berniat mencuri ataupun mengemis disini.
Satpam barusan geram. Kerah baju mereka ditarik, menyeret tanpa ampun keluar.
“STOP!”
Satpam itu berhenti. Seorang pria berdasi memberi isyarat agar melepaskan Nifah dan Hardi. Pria itu menghampiri mereka berdua.
“Baiklah, coba kalian jelaskan, ada apa dan mau apa kalian kemari?” tanyanya halus.
Nifah berusaha menjelaskan kalau dirinya hanya ingin membeli, itu saja. Bukan untuk mengemis ataupun mencuri.
“Kami punya uang kok pak, tolong jangan usir kami.”
Nifah menunjukkan tas kumal berisi uang yang susah payah dia kumpulkan. Receh, tanpa selembar pun uang kertas,dan jumlahnya ratusan. Pria berdasi itu tersenyum melihatnya, atau lebih tepatnya, seperti tertawa menatap recehan yang mungkin tidak berharga baginya. Dia mendekati pelayan dan sedikit berbicara, sang pelayan dengan cepat membungkus dua paket ayam goreng untuk Nifah dan Hardi.
“Ini!”
Tangannya menyodorkan bungkusan itu. Mereka berdua senang bukan kepalang, ditambah lagi dia menyerahkan dua boneka kecil ayam jantan yang lucu. Nifah menyodorkan uangnya, tapi pria berdasi itu menolak dengan halus. “Untuk jajan saja.”
Hilang sudah anggapan Nifah bahwa restoran MahaKaya ini hanya untuk mereka yang MahaKaya. Hari ini, batas territorial si Kaya dan si Miskin retak.
***
Bagi sebagian besar orang, kejadian ini hanyalah masalah kecil yang mungkin tidak berharga. Beli, dan pulang. Tidak bagi Nifah. Baginya, ini merupakan esensi dari sebuah perjuangan. Hal sepele dapat menjadi luar biasa bagi orang yang terlibat di dalamnya.
Nifah menyodorkan kantung uang yang semula akan dia belikan ayam goreng KFC tadi kepada Hardi, sebagai bentuk janji siang tadi.
“Ambillah, sepertinya ini cukup mewakili janjiku untuk memeberikan hasil kerjaku hari ini.”
***
Tujuannya hanya satu, rumah. Sepanjang perjalanan Nifah merencanakan akan memberikan surprise terindah bagi adiknya. Dia akan memainkan peran sebagai kakak yang pura-pura gagal memenuhi janji adiknya. Pastinya akan membuat Dedek kecewa. Saat hampir menangis karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, Nifah akan memberikan boneka Chaki, dan dengan serta merta menyodorkan pesanan adiknya itu. Pasti Dedek akan senang.
Bergegas dia pergi. Matahari sore menukik tajam, menyilaukan mega kuning yang sedikit gelap, tanda senja tiba. Batinnya sunnguh bahagia kala itu. Setidaknya, sebelum dia sempat meniti jalan di bawah kolong jembatan tempat dia tinggal.
Langkahnya terhenti. Hanya tinggal beberapa puluh meter lagi. Di depannya, Pak Har telah berdiri, mencegat perjalanannya. Tidak sendiri, dia bersama dua orang bertubuh kekar. Pak Har tampak marah.
“Ini sudah hari ke duapuluh empat. Kapan kau akan membayar?”
Nifah gentar. Beberapa hari memang dia sengaja menghindari Pak Hark arena memang sampai saat ini dia masih belum punya uang cukup untuk melunasi hutang-hutang ibunya.
“Ma… maaf pak. Sa.. say.. saya belum pu.. punya.. uang.”
Kalimatnya terbata-bata.
Pak Har geram. Mukanya merah padam. Sempat dia melirik bungkusan yang kubawa.
“Bagus. Kau bilang tak punya uang. Lantas apa yang kau pegang itu kalau kau tidak tukar dengan uang, bocah?”
“Ini untuk adik saya Pak.”
Laki-laki di belakangnya berusaha merebut bungkusan itu dari tangan Nifah.
“Heh, denger! Gembel macam kamu gak pantas beli makanan mahal ini. Sok kaya kamu!”
Tidak terima dengan perlakuannya, lengan kekar lelaki itu digigitnya keras-keras. Dia meraung kesakitan. Pak Har makin geram.
Dia mencabut belati dari sarungnya. Nifah kaget, tidak disangka Pak Har akan nekat. Mereka sama sekali tidak melihat Nifah sebagai sosok gadis kecil lima belas tahun. Tubuhnya terhimpit dalam lorong gelap mengancam. Kepalan tinju sesaat membuatnya roboh tidak berdaya. Nifah lemas saat melihat hidungnya bersimbah darah, namun dia tetap mempertahankan genggamannya.
Pak Har kalap. Kali ini tendangan menghujam dagu Nifah. Getaran hebat terasa sampai sekujur tubuhnya. Mati rasa, tubuhnya terkulai.
“Berani kamu main-main denganku ya? Ibumu memang tidak berguna!”
“Abisin aja, bang!”
Nifah menjerit dalam hati. Matanya memelas, memohon ampun. Belati itu bermain-main di tubuhnya, dan tanpa belas kasihan bersarang di perutnya. Bagai tersengat listrik, Nifah menjadi manusia paling tidak berdaya di hadapan orang-orang tidak berperikemanusiaan ini.
Maafkan… kakak, tidak bisa memenuhi janji.
Langit senja merintih. Pandangan Nifah mengabur. Semuanya gelap.
***