Memulai dari Akhir
Elvan merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda. Tidak jelas bagaimana dia mendeskripsikannya, hanya ada perasaan mendecak dalam hati. Bagai kuntum bunga mawar yang singgah dengan harumnya yang semerbak, mengelilingi dirinya di setiap waktu. Dia sadar, cinta telah merasuki jiwanya.
Gadis itu, sering dia melihatnya duduk bersandar pada bangku taman, berbarengan dengan hiasan alam pepohonan yang memang sengaja ditata cantik. Sesekali Elvan berusaha mencuri pandang dari kejauhan.
“Nora”, sapanya ramah memperkenalkan diri.
Matanya bulat, pancarannya sungguh bening dan teduh, persis riakan air yang seakan-akan bisa berenang di dalamnya. Elvan tersenyum. Jabatan tangannya mensiratkan bahwa dia sungguh kagum dengan makhluk Hawa di depannya.
Mereka saling mengenal ketika secara tidak sengaja mengikuti kegiatan pembelajaran anak-anak SD di salah satu desa binaan. Tanpa kesulitan mereka menjadi akrab. Di selingi tawa dan canda, pengalaman-pengalaman yang berkesan membalut pertemuan mereka.
Ternyata, bukan hanya Elvan yang berdesir hatinya. Gadis itu pun merasakan sesuatu yang membahana, mengisi relung hatinya yang terdalam. Nora jatuh cinta pada lelaki itu. pertemuan mereka mungkin terasa singkat, namun tersirat kesan mendalam di hati keduanya. Kedua insan itu sama-sama tercuri hatinya, entah siapa pencuri pertama. Mereka saling diam dengan khayalan masing-masing di benak mereka.
Nora tampak memandangi foto-foto yang dia dapatkan saat dirinya berada di desa binaan. Iseng-iseng, dia mencari-cari foto Elvan. Wajahnya tersenyum puas, mendapati foto teman baru yang dikenalnya itu. Sesekali mukanya merona seperti tomat masak. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Cepat-cepat dia membuka logbook kepanitiaan, memastikan angka-angka yang terselip di dalamnya.
Elvan Khazanatullah, dapat!
***
“Udah samperin aja sana. Kita tau kok, kamu naksir dia.”
Teman-teman yang juga satu tim ketika itu melihat gelagat Elvan yang sedikit aneh, mulai memahami dirinya bahwa sang Adam ini tengah berlayar di danau asmara. Gurauan memberondong Elvan, menggoda tiada henti.
“Iya, Nora cantik loh. Masa mau dibiarin!”
“Didukung seratus persen deh, bos. Tenang aja!”
Elvan hanya tersipu malu menanggapinya. Hatinya membenarkan. Malam itu, bintang pun berkelip genit seakan menghakimi. Wajah Nora terlukis di pandangannya. Sedetik kemudian, dering HP membuyarkan lamunannya.
Temui aku di taman, besok jam 9. Nora.
Saat sadar siapa pengirimnya, dia beranjak. Nora? Seperti ada sesuatu yang merasuk jiwanya, Elvan terkaget-kaget.
Bagaimana dia tahu nomorku?
Seingatnya, dia tidak pernah bertukar nomor. Pikiran itu ditepisnya. Layar di HP terpampang jelas sekali nama pengrimnya, Nora. Tanpa banyak menunggu waktu lagi, Elvan bersiap diri.
***
Taman masih sepi orang. Mungkin karena ini jam kerja, tidak banyak orang hilir mudik menghabiskan waktu disni. Elvan gelisah, jam sembilan lebih lima menit, Nora belum datang juga.
Apa pesannya salah kirim?
Elvan masih bersabar. Matanya awas memandangi setiap sudut taman, berharap gadis itu cepat datang.
09.30
Wajahnya merah padam. Elvan memang paling tidak suka dengan keterlambatan. Dia hampir saja beranjak pergi, ketika uluran tangan mencengkram bahunya.
“Maaf, aku sebenarnya sudah melihatmu dari tadi, hanya ingin memastikan.” Senyum Nora terkembang. Rasa bersalah sedikit menghiasi wajahnya. Elvan kembali duduk.
“Ikutlah denganku.” Katanya lagi. Nora menarik tangan Elvan dengan lembut,
mengajaknya mengitari taman. Pikirannya tumpah ruah di hadapan lelaki itu. tersirat rasa senang di balik senyumnya yang terkembang. Baginya, Elvan pria yang low profile dan asyik.
Banyak kata yang seharusnya diucapkan hari ini. Sehari bersama Nora, sedikitpun Elvan tidak melepaskan pandangannya. Sejujurnya, dia merasa sumringah dengan kejadian hari ini. Betapa tidak, wanita yang selalu ada di pikirannya itu seolah memberi lampu hijau untuk didekati. Hanya saja, Elvan belum dapat mengungkapkan perasaannya. Lidahnya masih kelu.
***
Benaknya disesaki bayang pria itu. Ingin rasanya dia mendengar ada senandung cinta dari mulut Elvan. Kalau saja dia tahu Elvan juga mencintainya, tidak akan sulit. Cukup bagi Nora untuk mengungkapkan perasaannya lewat sikap.
Biarkan Elvan yang memulai. Harusnya dia tahu itu.
Sekarang dia hanya bisa berharap. Nora tidak ingin menebak-nebak terlalu jauh.
Mereka masih terdiam, terkekang oleh rasa egois masing-masing. Sampai saat ini Elvan tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan sebentuk kasih pada orang yang tengah dicintainya itu. Sulit, bukan tidak ingin. Setiap kali mereka bersama, sekedar menyapa ataupun mengobrol, Nora seakan belum menemukan reaksi balik dari lelaki yang diharapkannya itu.
Apa yang kau tunggu, van? Curi hatiku!
Nyatanya, meski berusaha memancing suasana, Nora belum yakin dengan hati Elvan. Meskipun dia tahu Elvan selalu menjadi pendengar sejati bila dia sedang mengutarakan masalahnya, menemaninya di waktu senggang, atau sekedar melihatnya tersenyum di dekatnya. Semua itu belum tampak di mata Nora sebagai bentuk cinta. Nora mulai gelisah.
Apa aku cuma teman di matanya?
***
“Aku sering melihatmu bersama Nora, sepertinya sudah mulai ada perkembangan ya?”
Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Elvan.
“Iya. tapi… aku masih tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.”
Temannya terdiam. Dia mengenal Elvan sebagai seorang lelaki yang cerdas mengambil sikap. Tapi untuk urusan asmara, tidak pernah ada yang menduga.
“Kau tahu…” katanya berusaha meyakinkan.
“Perempuan butuh kepastian. Jangan kau membuatnya menunggu, apalagi mengecewakan.”
“Apa dia mencintaiku?” jawab Elvan ragu.
“Kesempatan tidak akan datang jika tidak dicoba. Kenapa kau harus bertanya, sementara jawabannya belum kau temukan disana?”
Elvan mengangguk paham. Tapi dia masih perlu waktu untuk mengumpulkan keberaniannya. Entah sampai kapan dia akan siap.
***
Hampir tujuh bulan sudah, kebersamaan mereka terasa semu. Cintanya jalan di tempat. Nora mulai menangkap kesimpulan, dirinya tidak pernah spesial di mata Elvan. Teman, hanya sekedar teman. Gadis itu masih berharap jauh, hingga akhirnya dia harus menyerah pada waktu. Kepastian tidak pernah berpihak padanya. Ingin rasanya dia menghampiri Elvan, menyatakan perasaannya selama ini, tapi niat itu diurungkannya. Dia muak.
Kenapa harus aku yang terus mengawali? Tidakkah dia paham perasaanku?
Elvan tidak pernah tahu, gadis yang diharapkannya itu kini telah salah paham dengan perasaannya. Cinta Elvan tidak pernah berpaling sedetik pun pada Nora, tapi kepercayaan diri itu tidak pernah tampak hingga dia sadar, sebuah kesalahan menjadi akhir dari segalanya.
Di sudut kamar Nora berusaha menahan air mata yang membasahi pipinya, tapi tetap saja tak dapat dia bendung. Perasaannya campur aduk, puting beliung di hatinya berkecamuk. Dering HP tiba-tiba berbunyi membuyarkan kegelisahannya.
Temui aku di taman, besok jam 9. Elvan.
Nora beranjak dari tempat tidur sambil menyeka air mata. Elvan? Lelaki itu kini mengawali, setelah sekian lama Nora yang terus menerus menghubunginya.
Kemana saja kau, Van?
***
Taman masih sepi, sama seperti pertama kali Nora mengajak Elvan bertemu. Angin pagi menghembuskan nafas kerinduan. Mata Nora yang bulat masih terlihat teduh, dan makin cantik. Kini Elvan tidak dapat menyembunyikan perasaannya lagi.
“Sudah lama tidak bertemu ya?”
Nora masih terdiam sejenak. Matanya lekat memperhatikan Elvan. Betapa dia merindukan lelaki itu.
“Kau memang tidak pernah menghubungiku. Hanya kali ini saja kau berani. Ada apa, Van?”
Pertanyaan Nora seolah menyiratkan kejengkelannya. Elvan masih belum peka, tapi hari ini, keberaniannya sudah memuncak. Bertahta pada satu keputusan hati.
“Aku tidak punya alasan lain untukmu. Dengar aku, Nora. aku begitu mencintaimu.”
Terlontar juga.
Nora tidak langsung bereaksi. Kata-kata itu, kata-kata yang selalu dia harapkan. Matanya hampir berkaca-kaca, namun sedetik kemudian dia berusaha tetap tenang.
“Kenapa baru sekarang, Van? Harusnya kau katakan itu dari dulu.”
Jadi benar, dia juga mencintaiku?
“Mana keberanianmu selama ini?” lanjut Nora. Kali ini kata-katanya menantang Elvan.
“Maafkan aku, Nora. Hanya saja. Aku bingung bagaimana mengungkapkannya. Sebutlah aku bodoh, tapi yang jelas aku ingin tahu, apa perasaan kita sama?” Ungkapnya.
Nora mengangguk. Sejujurnya, dia ingin memaki kebodohan Elvan dan kebodohan dirinya. Kebodohan Elvan karena terlalu pengecut, dan kebodohannya untuk tidak berterus terang. Mestinya anggapan diri bahwa perempuan tidak layak mengungkapkan perasaan itu dia kesampingkan.
Jika dia mau, bisa saja Nora berlari memeluk Elvan, menangis sejadi-jadinya, membiarkan Elvan mencium keningnya sebagai tanda sayang padanya. Tapi Nora tidak mungkin mengingkari keputusan yang dibuatnya.
Kenapa tidak dari dulu, Van?
Perasaan Elvan hampir berada di puncak langit kebahagiaan saat Nora mengangguk tanda ‘iya’. dia hampir mengalahkan perasaannya selama ini, perasaan terpendam yang ditunda-tundanya terus. Namun dia harus berhadapan dengan kenyataan.
“Waktu tidak pernah bisa menolerir keadaan. Dan kau tahu, Van? Manusia tidak bisa memulai dari akhir.”
Dari balik tas, Nora mengeluarkan kertas persegi panjang dengan bungkusan plastik. Saat Elvan menerimanya, lututnya terasa lemas. Pijakan kakinya seakan tidak lagi menyentuh bumi. Langit seakan mau runtuh saat dia membaca nama yang tercantum di atasnya.
M E N I K A H
Nora Kamalia Utami dan Satria Wijaya
24 February, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar