
Aku hampir tak percaya dengan apa yang kau ucapkan. Perasaan aneh ini menyelimuti hatiku. Berulang-ulang kucerna dalam hati, mencoba memaknai. Ada keraguan yang menutupinya.
“Menikahlah denganku.”
Mengapa aku? Bukankah banyak wanita lain yang jauh lebih baik? Harusnya kau tahu dengan siapa berucap. Gelar yang terlanjur melekat ini tak mampu kau jadikan alasan. Meski aku pernah mengecap bangku kuliah, kau jauh lebih baik. Kau lebih terhormat, dengan pekerjaan dan jabatan yang bisa meminang wanita baik-baik. Kau punya segala kecerdasan dan kekayaan yang mencukupi. Bagai langit dan bumi yang saling menjaga jarak. Kita berbeda.
Lama aku terdiam, bukan untuk membuatmu menunggu. Sorot matamu kali ini lebih halus menatap penuh kesungguhan, meyakinkan kembali keraguan yang berputar di kepalaku.
“Indah, menikahlah denganku.”
Ini mimpi! Pasti mimpi! Hatiku bergumam mencoba memecah fantasi ini. Nyatanya tidak. Seuntai kata cinta dengan tulus kau ucapkan di hadapan penghulu dan para saksi, memantapkan keteguhan dalam tali pernikahan. Suami dan istri, itulah kita saat ini.
Seharusnya kau kecewa. Aku bukanlah wanita suci. Mungkin dalam bilangan seratus, kau masuk urutan daftar lelaki yang pernah menyentuhku. Tapi tak ada kekecewaan yang tergurat, wajahmu tampak bahagia.
“Aku mencintaimu,” bisikmu hangat mengalir di telingaku. Hatiku bergetar hebat. Darahku berdesir cepat.
Cintakah ini?
Dulu, hanya tatapan dan umbaran nafsu yang kudapat dari para lelaki hidung belang. Hanya fisik dan kepuasan yang mereka minta dariku. Kini kau beri aku perasaan yang sungguh memberiku keindahan. Cinta.
Hari-hari selanjutnya menjadi pentas kebahagiaan dalam catatan sejarah hidupku. Menjadi perempuan terhormat, diselimuti kasih sayang yang kau berikan setiap detik. Kau bahkan tak pernah menyinggung masa laluku, meski aku yang selalu bertanya alasan menikahiku.
“Itu bukan alasan, dan aku tidak pernah menyesal, Indah,” ungkapmu. Sebuah kecupan manis di kening mendarat begitu mesra, merobohkan tiang kebimbanganku.
Kau pria yang baik, Bang. Sungguh baik.
Begitu cepat hari berganti, bertambahlah kebahagiaanku dengan lahirnya jagoan kecil kita. Sungguh tampan, sepertimu. Kau beri nama ia Satria, perlambang keperkasaan yang nampak dari auramu. Ia tumbuh begitu menggemaskan. Dari anak ini, aku ingin mengabdikan diriku mendidiknya, menjadi pria santun yang berbudi, juga lelaki yang baik sepertimu.
Kau bahkan mengerti diriku yang merasa terkurung dalam rutinitas, meskipun aku tak pernah mengeluhkannya. “Kenapa Indah tak coba kuliah lagi? Biar punya kesibukan?” tawarnya. Kusetujui usulan itu dengan hati gembira.
Kuliah mengembalikan kepercayaan diriku. Bergaul dengan kaum intelek yang kritis dan menyenangkan membuatku merasa baik. Jurusan psikologi yang kuambil menjadi peluang memahami dunia gelap yang sempat kulakoni. Perih rasanya mengenang pahitnya masa lalu.
Lewat Forum Karya Perempuan yang kuikuti, aku mencoba berbagi pengalaman hidup. Sudah seharusnya aku berbagi sedikit kebahagiaan. Sepatutnya aku tergerak membantu perempuan yang tak bernasib baik sepertiku dulu.
“Bina mereka, berikanlah arahan agar mereka paham bahwa seks bukan untuk dijual!”
Forum Karya Perempuan yang kuikuti dari kampus mendapat kesempatan membina para lonte* yang terjaring razia Satpol PP dua hari lalu. Aku tahu persis sulitnya membina mereka, tapi kucoba memberanikan diri ikut andil.
Bayangan itu membekas kembali. Rumah bordir berkamar banyak yang selalu dipenuhi lelaki hidung belang langganan mamih. Miris jika mengingatnya, tak ada sentuhan cinta dari tangan mereka, tak ada kasih sayang dari tatapan mereka, tak ada kelembutan dari setiap perlakuan mereka. Hanya nafsu yang menguasai.
Aku hampir menangis.
Kuperhatikan satu per satu wajah mereka. Aura muda yang hilang, sama seperti aku dulu. Para lonte yang tampak acuh mendengarkan materi pembinaan tak menampakkan ekspresi senang. Inikah aku dulu?
“Percuma kami kerja, tak ada yang mau menerima kami!” potong seorang pelacur yang sudah tampak gusar.
“Iya, sudah untung kami kerja begini. Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!” seru yang lain. Nada protes bersuara negatif mendukung makin banyak. Hatiku bergetar, aku angkat bicara.
“Saya juga dulu seorang pelacur. Semua berubah ketika kita ingin mencoba!” Ungkapku jujur berusaha mencairkan suasana. Mereka mendengus. Aku yakin mereka tahu itu, hanya tak tahu harus berbuat apa. Sebuah alasan klasik perdagangan seks: faktor ekonomi yang menghimpit dan godaan uang melimpah yang instant. Kusadari semua teman-teman kuliah menatapku kaget. Mungkin karena keterusteranganku tadi.
“Belajarlah menjahit, memasak, atau apapun yang halal. Itu lebih baik daripada...”
“Ah, teori! Munafik kamu!” potong mereka.
Hatiku sakit mendengarnya. Kuhentikan ucapanku, berbalik meninggalkan ruangan. Aku tahu ini merusak acara forum, aku tak tahu harus berbuat apa. Salahkah, aku berterus terang?
Ucapanku merespon negatif. Kini semua orang memandangku sinis. Tersirat kebencian yang menghinakan, ditujukan padaku.
“Ternyata dia lonte lho!”
“Iya, cewek gampangan!”
“Dia ikut Forum Karya Perempuan? Idiih, munafik!”
Rentetan gunjingan meramaikan seisi kampus. Sungguh Bang, bukan ini yang kuharapkan. Kukira mereka mengerti dan merasa kagum akan ketulusan cinta lelaki luar biasa sepertimu, Bang. Cinta yang membuka hati dan pikiran menerima diriku yang kotor. Nyatanya mereka tak terima. Mungkin ini konsekuensi sebab akibat.
Kupandangi tubuh ini dalam-dalam. Cantik, dan masih sintal meski aku telah melahirkan anak. Dulu tubuh ini kotor oleh nafsu hingga kau datang, Bang. Kupikir semuanya akan bersih. Aku cemburu pada mereka yang masih suci.
“Apa yang membuatmu sedih, Indah?” Meski kau bertanya, tak pernah kuceritakan kejadian itu padamu, bahkan saat kau mengetahui itu dari sikap diamku. Cukup aku yang terluka. “Tak ada, Bang! Tak ada sesuatu yang membuatku sedih.” Ya. Tak usah kau tahu. Aku mencoba tersenyum kembali. Ah, kau memang yang paling mengerti diriku, Bang.
Aku ingin merubah masa laluku. Meski semua orang menjelek-jelekkan, aku tak peduli. Hanya Tuhan yang tahu arti kesucian yang sebenarnya, bukan mereka. Meski tanpa Forum Karya Perempuan, aku yakin bisa. Tidak sedikit rintangan yang kutapaki, tapi tidak sedikit pula para pelacur yang berhasil kubina menjadi penjahit atau membuka usaha katering.
Hariku menjadi rutinitas yang menyibukkan. Selepas kuliah, langsung pergi ke tempat pembinaan sampai sore. Satria yang tumbuh dewasa kini mulai mandiri, jadi aku tak perlu khawatir. Malah dia sesekali kuminta membantu di tempat pembinaan, mengurus hal-hal kecil sesuai usianya.
Aku bahagia bisa membantu mereka. Semua karena dukunganmu, Bang.
Namun semangat yang menderu ini kembali jatuh. Pikiranku dipenuhi keraguan dan keputusasaan lagi. Pulang dari tempat pembinaan, kudapati kau tengah bersama ibu.
“Semua orang membicarakannya, ini memalukan!”
Kau tak mendengar aku masuk. Sempat aku tak tahu kalau ibu datang, sampai suaranya yang cukup keras tadi terdengar dari tempatku berdiri. Karena penasaran, aku menguping pembicaraan.
“Tapi bu, Indah tidak seperti dulu. Dia sudah berubah semenjak pernikahan kami!”
Kali ini suaramu yang kutangkap. Tapi kenapa ada namaku yang kau sebut? Ada apa?
“Sejak awal ibu tidak suka dengannya. Kali ini dia mempermalukan keluarga. Kini semua orang tahu kalau dia itu pelacur!”
Suara ibu menggema begitu tegas, merobek jahitan luka hati yang berusaha kututup rapat.
“Ceraikan dia, atau ibu tak akan pernah melihatmu lagi!”
Ancamannya serius. Kini kulihat dirimu dalam kebimbangan, sementara batinku terjepit dalam kehancuran. Ego keperempuananku berontak, mengusik dan tidak rela menerima pernyataan ibu. Ya. Aku hanya seorang pelacur yang kau belas kasihani, Bang. Sejak awal memang tak seharusnya kau memilihku. Kini lihat retaknya keluargamu karena aku. Ah, kenapa aku bisa begitu bangga dengan cintamu? Harusnya aku tahu diri.
Air mataku meleleh. Benar yang kukatakan itu kan, Bang?



