Senin, 20 Desember 2010

Cinta Belas Kasih


Aku hampir tak percaya dengan apa yang kau ucapkan. Perasaan aneh ini menyelimuti hatiku. Berulang-ulang kucerna dalam hati, mencoba memaknai. Ada keraguan yang menutupinya.
“Menikahlah denganku.”
Mengapa aku? Bukankah banyak wanita lain yang jauh lebih baik? Harusnya kau tahu dengan siapa berucap. Gelar yang terlanjur melekat ini tak mampu kau jadikan alasan. Meski aku pernah mengecap bangku kuliah, kau jauh lebih baik. Kau lebih terhormat, dengan pekerjaan dan jabatan yang bisa meminang wanita baik-baik. Kau punya segala kecerdasan dan kekayaan yang mencukupi. Bagai langit dan bumi yang saling menjaga jarak. Kita berbeda.
Lama aku terdiam, bukan untuk membuatmu menunggu. Sorot matamu kali ini lebih halus menatap penuh kesungguhan, meyakinkan kembali keraguan yang berputar di kepalaku.
“Indah, menikahlah denganku.”
Ini mimpi! Pasti mimpi! Hatiku bergumam mencoba memecah fantasi ini. Nyatanya tidak. Seuntai kata cinta dengan tulus kau ucapkan di hadapan penghulu dan para saksi, memantapkan keteguhan dalam tali pernikahan. Suami dan istri, itulah kita saat ini.
Seharusnya kau kecewa. Aku bukanlah wanita suci. Mungkin dalam bilangan seratus, kau masuk urutan daftar lelaki yang pernah menyentuhku. Tapi tak ada kekecewaan yang tergurat, wajahmu tampak bahagia.
“Aku mencintaimu,” bisikmu hangat mengalir di telingaku. Hatiku bergetar hebat. Darahku berdesir cepat.
Cintakah ini?
Dulu, hanya tatapan dan umbaran nafsu yang kudapat dari para lelaki hidung belang. Hanya fisik dan kepuasan yang mereka minta dariku. Kini kau beri aku perasaan yang sungguh memberiku keindahan. Cinta.
Hari-hari selanjutnya menjadi pentas kebahagiaan dalam catatan sejarah hidupku. Menjadi perempuan terhormat, diselimuti kasih sayang yang kau berikan setiap detik. Kau bahkan tak pernah menyinggung masa laluku, meski aku yang selalu bertanya alasan menikahiku.
“Itu bukan alasan, dan aku tidak pernah menyesal, Indah,” ungkapmu. Sebuah kecupan manis di kening mendarat begitu mesra, merobohkan tiang kebimbanganku.
Kau pria yang baik, Bang. Sungguh baik.
Begitu cepat hari berganti, bertambahlah kebahagiaanku dengan lahirnya jagoan kecil kita. Sungguh tampan, sepertimu. Kau beri nama ia Satria, perlambang keperkasaan yang nampak dari auramu. Ia tumbuh begitu menggemaskan. Dari anak ini, aku ingin mengabdikan diriku mendidiknya, menjadi pria santun yang berbudi, juga lelaki yang baik sepertimu.
Kau bahkan mengerti diriku yang merasa terkurung dalam rutinitas, meskipun aku tak pernah mengeluhkannya. “Kenapa Indah tak coba kuliah lagi? Biar punya kesibukan?” tawarnya. Kusetujui usulan itu dengan hati gembira.
Kuliah mengembalikan kepercayaan diriku. Bergaul dengan kaum intelek yang kritis dan menyenangkan membuatku merasa baik. Jurusan psikologi yang kuambil menjadi peluang memahami dunia gelap yang sempat kulakoni. Perih rasanya mengenang pahitnya masa lalu.
Lewat Forum Karya Perempuan yang kuikuti, aku mencoba berbagi pengalaman hidup. Sudah seharusnya aku berbagi sedikit kebahagiaan. Sepatutnya aku tergerak membantu perempuan yang tak bernasib baik sepertiku dulu.
“Bina mereka, berikanlah arahan agar mereka paham bahwa seks bukan untuk dijual!”
Forum Karya Perempuan yang kuikuti dari kampus mendapat kesempatan membina para lonte* yang terjaring razia Satpol PP dua hari lalu. Aku tahu persis sulitnya membina mereka, tapi kucoba memberanikan diri ikut andil.
Bayangan itu membekas kembali. Rumah bordir berkamar banyak yang selalu dipenuhi lelaki hidung belang langganan mamih. Miris jika mengingatnya, tak ada sentuhan cinta dari tangan mereka, tak ada kasih sayang dari tatapan mereka, tak ada kelembutan dari setiap perlakuan mereka. Hanya nafsu yang menguasai.
Aku hampir menangis.
Kuperhatikan satu per satu wajah mereka. Aura muda yang hilang, sama seperti aku dulu. Para lonte yang tampak acuh mendengarkan materi pembinaan tak menampakkan ekspresi senang. Inikah aku dulu?
“Percuma kami kerja, tak ada yang mau menerima kami!” potong seorang pelacur yang sudah tampak gusar.
“Iya, sudah untung kami kerja begini. Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!” seru yang lain. Nada protes bersuara negatif mendukung makin banyak. Hatiku bergetar, aku angkat bicara.
“Saya juga dulu seorang pelacur. Semua berubah ketika kita ingin mencoba!” Ungkapku jujur berusaha mencairkan suasana. Mereka mendengus. Aku yakin mereka tahu itu, hanya tak tahu harus berbuat apa. Sebuah alasan klasik perdagangan seks: faktor ekonomi yang menghimpit dan godaan uang melimpah yang instant. Kusadari semua teman-teman kuliah menatapku kaget. Mungkin karena keterusteranganku tadi.
“Belajarlah menjahit, memasak, atau apapun yang halal. Itu lebih baik daripada...”
“Ah, teori! Munafik kamu!” potong mereka.
Hatiku sakit mendengarnya. Kuhentikan ucapanku, berbalik meninggalkan ruangan. Aku tahu ini merusak acara forum, aku tak tahu harus berbuat apa. Salahkah, aku berterus terang?
Ucapanku merespon negatif. Kini semua orang memandangku sinis. Tersirat kebencian yang menghinakan, ditujukan padaku.
“Ternyata dia lonte lho!”
“Iya, cewek gampangan!”
“Dia ikut Forum Karya Perempuan? Idiih, munafik!”
Rentetan gunjingan meramaikan seisi kampus. Sungguh Bang, bukan ini yang kuharapkan. Kukira mereka mengerti dan merasa kagum akan ketulusan cinta lelaki luar biasa sepertimu, Bang. Cinta yang membuka hati dan pikiran menerima diriku yang kotor. Nyatanya mereka tak terima. Mungkin ini konsekuensi sebab akibat.
Kupandangi tubuh ini dalam-dalam. Cantik, dan masih sintal meski aku telah melahirkan anak. Dulu tubuh ini kotor oleh nafsu hingga kau datang, Bang. Kupikir semuanya akan bersih. Aku cemburu pada mereka yang masih suci.
“Apa yang membuatmu sedih, Indah?” Meski kau bertanya, tak pernah kuceritakan kejadian itu padamu, bahkan saat kau mengetahui itu dari sikap diamku. Cukup aku yang terluka. “Tak ada, Bang! Tak ada sesuatu yang membuatku sedih.” Ya. Tak usah kau tahu. Aku mencoba tersenyum kembali. Ah, kau memang yang paling mengerti diriku, Bang.
Aku ingin merubah masa laluku. Meski semua orang menjelek-jelekkan, aku tak peduli. Hanya Tuhan yang tahu arti kesucian yang sebenarnya, bukan mereka. Meski tanpa Forum Karya Perempuan, aku yakin bisa. Tidak sedikit rintangan yang kutapaki, tapi tidak sedikit pula para pelacur yang berhasil kubina menjadi penjahit atau membuka usaha katering.
Hariku menjadi rutinitas yang menyibukkan. Selepas kuliah, langsung pergi ke tempat pembinaan sampai sore. Satria yang tumbuh dewasa kini mulai mandiri, jadi aku tak perlu khawatir. Malah dia sesekali kuminta membantu di tempat pembinaan, mengurus hal-hal kecil sesuai usianya.
Aku bahagia bisa membantu mereka. Semua karena dukunganmu, Bang.
Namun semangat yang menderu ini kembali jatuh. Pikiranku dipenuhi keraguan dan keputusasaan lagi. Pulang dari tempat pembinaan, kudapati kau tengah bersama ibu.
“Semua orang membicarakannya, ini memalukan!”
Kau tak mendengar aku masuk. Sempat aku tak tahu kalau ibu datang, sampai suaranya yang cukup keras tadi terdengar dari tempatku berdiri. Karena penasaran, aku menguping pembicaraan.
“Tapi bu, Indah tidak seperti dulu. Dia sudah berubah semenjak pernikahan kami!”
Kali ini suaramu yang kutangkap. Tapi kenapa ada namaku yang kau sebut? Ada apa?
“Sejak awal ibu tidak suka dengannya. Kali ini dia mempermalukan keluarga. Kini semua orang tahu kalau dia itu pelacur!”
Suara ibu menggema begitu tegas, merobek jahitan luka hati yang berusaha kututup rapat.
“Ceraikan dia, atau ibu tak akan pernah melihatmu lagi!”
Ancamannya serius. Kini kulihat dirimu dalam kebimbangan, sementara batinku terjepit dalam kehancuran. Ego keperempuananku berontak, mengusik dan tidak rela menerima pernyataan ibu. Ya. Aku hanya seorang pelacur yang kau belas kasihani, Bang. Sejak awal memang tak seharusnya kau memilihku. Kini lihat retaknya keluargamu karena aku. Ah, kenapa aku bisa begitu bangga dengan cintamu? Harusnya aku tahu diri.
Air mataku meleleh. Benar yang kukatakan itu kan, Bang?

Senin, 02 Agustus 2010

Ospek : di- dan Me-

Maksud judulnya itu,,, untuk ospek tahun ini masuk dua kategori nih... satu sisi mesti mengospek MABA di Farmasi karena jadi panitia Ospek, tapi satu sisi pun harus diospek di karena saya peserta ospek kedokteran hewan.. Huks... ga elit amat udah tua masih diospek. berharap ga ada pembantaian masal, apalagi ke kepala (botak maksute). Hehehe.... tapi saya suka tulisan blog KHALIFA tentang ospek. coba deh temen-temen klik yang satu ini. mudah-mudahan di IPB nanti belum ada yang tahu kalu anak lulusan 2008 jadi MABA 2010. Welcome FKH!!! ^^

Kamis, 24 Juni 2010

Bussiness Plan

Temen-temen Farmasi, ini ada contoh bussiness plan yang kemaren kata Pak Indra bagus, silahkan download di sini
Semoga bermanfaat... ^^

Kamis, 10 Juni 2010

Cuma File Sampah...

Postingan yang saya publish sih sebenarnya banyak dari ajang lomba tulis, tapi ya itu,,, gagal masuk terus... tapi coba deh,,, saya pengen ber-sharing Ria sama temen-temen, barangkali ada komen...


KORUPSI : FENOMENA YANG DIPERANGI TETAPI JADI ‘SOLUSI’


Suara peluit yang terdengar cukup kencang di telinga membuat sepeda motor yang tengah dikendarai Arifin berhenti dan menepi. “Pemeriksaan rutin pak, mohon tunjukkan SIM dan STNK-nya”, sapa polisi tanpa berbasa-basi.
Nasib sial bagi Arifin, dua surat penting yang seharusnya dibawa saat berkendara tertinggal di rumah. Dengan sikap pasrah Arifin menggeleng lemah. “Ketinggalan, pak!” jawabnya. Paling tidak, nantinya dia akan berurusan dengan hakim di meja hijau dengan denda ringan.
Polisi tidak langsung menarik secarik kertas tilang, melainkan mengambil kunci motor Arifin dan mulai bernegosiasi.
“Mau disini, apa di pengadilan?” tanyanya.
“Maksudnya apa ya, pak?” Arifin kebingungan.
“Maksud saya, kesalahan kamu ini mau dititipkan lewat saya atau mau diurus sendiri di pengadilan?” terang polisi itu sedikit gemas. Arifin mulai mengerti arah pembicaraan tadi. Sebagai orang awam yang tidak ingin memperpanjang urusan, Arifin memilih untuk menitipkan perkaranya lewat polisi yang menilangnya. Urusannya selesai.

***

Cerita di atas merupakan sepenggal kisah nyata yang dialami saya pribadi dan (sangat mungkin) pernah dialami oleh orang lain kebanyakan. Kasus seperti ini dapat diartikan sebagai tindakan korupsi. Mengapa? Karena polisi menyalahgunakan kekuasaannya dan Arifin berpangku tangan dari masalah yang dihadapinya. Saya tidak habis pikir, apakah suatu kesalahan seseorang dapat dititipkan dan ditanggung orang lain? Terkesan menggelikan dan aneh. Agama saya jelas mengatakan tidak. Secara umum, ketegasan hukum di Indonesia terkesan lemah. Hal kecil seperti ini sudah terlanjur dianggap lumrah dan sering dipandang sebelah mata. Padahal, dengan pembentukan sikap mental baik dari masyarakat dan elemen pemerintah yang berakar dari kewajaran sikap yang jelas-jelas salah dapat menghasilkan karakter yang tidak patuh hukum, dan itu sangat leluasa terjadi di Indonesia.
Kasus yang dipaparkan mungkin tidak sebesar penyalahgunaan kekuasaan di pemerintahan untuk mengeruk kekayaan negara agar uangnya masuk ke kantong pribadi seperti kejadian yang menimpa pejabat tinggi yang sudah sangat bosan ngartis di televisi. Sorotan yang ditelaah disini adalah sikap korupsi yang berasal dari kalangan kecil yang justru dari sana terjalin benang merah dengan kasus-kasus korupsi besar yang terjadi.

Slogan POLRI yang bertemakan melayani dan mengayomi seharusnya menjadi cerminan baik untuk masyarakat. Mereka yang seharusnya berwibawa di mata warga negara jatuh martabatnya oleh kelakuannya sendiri. Saya tidak menyalahkan keseluruhan elemen pembantu negara ini, hanya mengkritisi beberapa elemen anggota yang tidak mencerminkan sikap bijak. Tengoklah sistem pelayanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) POLRES Kota Tasikmalaya. Sangat jelas terpampang sebuah spanduk besar bertuliskan: “PELAYANAN SKCK DAN SIDIK JARI TIDAK DIPUNGUT BIAYA APA PUN”. Nyatanya, ketika mengurus perpanjangan SKCK, petugas tidak langsung menyerahkan suratnya, tetapi memberi isyarat: “Seikhlasnya aja dek, mau berapa juga terserah”. Meskipun tidak adanya penetapan nominal uang yang disebutkan, tersirat dengan jelas bahwa hal ini merupakan perwujudan memalukan dalam tubuh kepolisian. Spanduk yang terpajang di depannya tampak tidak berpengaruh apa-apa, dan tentu saja, ini adalah tindakan korupsi yang seringkali tidak tersentil oleh mereka yang tidak jeli menanggapi. Kejadian ini bukan tidak mungkin juga terjadi di POLRES kota lain.
Korupsi selalu bersahabat baik dengan dua rekannya, kolusi dan nepotisme. Menurut Kamus Hukum 2002, korupsi dapat diartikan sebagai penyelewengan uang dengan menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, kolusi diartikan sebagai kerjasama dua orang/ organisasi untuk kepentingan bersama, dan nepotisme adalah lebih memilih saudara/kerabat untuk kepentingan mereka sendiri, bukan atas dasar kemampuan. Contoh lain selain kasus SKCK yang disebutkan tadi, pelayanan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) di kepolisian sangat kental dengan unsur nepotisme. Sering dengar istilah SIM tembak? Tahun 2005, ketika itu sistem pembuatan SIM tidak serumit sekarang ini. Dengan sangat leluasa, para pemohon SIM dapat dengan mudah mendapatkan SIM tanpa harus bersusah payah mengikuti serangkaian tes tulis dan praktek yang sarat formalitas hanya dengan ditemani tentara berseragam hijau ataupun rekan sesama polisi, entah itu ayah, paman, ataupun tetangganya dan dengan menambah dua kali lipat harga pelayanan pembuatan SIM kepada petugas. Jika tidak dengan cara tersebut, prosesnya sedikit dipersulit.

Lain tempat, lain kasus. Tahun 2006, ketika itu saya diminta untuk menemani pengelola masjid desa untuk meminta bantuan dana ke Pemerintah Daerah (Pemda). Pengajuan dananya relatif kecil, hanya untuk perbaikan sambungan listrik. Tidak sampai satu juta. Keadaan ketika itu sangat dipersulit, meskipun sudah mendapat acc kucuran dana namun bagian keuangan belum juga mencairkannya. Akhirnya, dengan menyelipkan ‘uang pelicin’ kepada petugas, dana turun. Cara seperti ini jelas menyalahi aturan, seolah mengajarkan kita untuk bertindak korupsi, tapi percaya atau tidak, hal itu merupakan cara ampuh untuk menembus labirin berbelit-belit semacam ini.
Sebenarnya, banyak yang menyadari tindakan demi tindakan yang dilakukan untuk mempermudah urusan merupakan bentuk dari benih korupsi itu sendiri. Hati kecil yang menjerit menyatakan bersalah, tetapi justru banyak orang menjadikan korupsi kecil seperti itu menjadi alternatif pemecahan masalah. Solusi yang tepat untuk mereka yang tidak mau repot hanya dengan sedikit bernegosiasi sambil mengulurkan jabatan tangan yang terselip amplop di dalamnya. Nominalnya bahkan tidak sampai seratus ribu rupiah.

Bukan tidak mungkin jika sistem hukum yang seharusnya diberlakukan sebagaimana mestinya hanya menjadi peraturan tertulis tanpa dilaksanakan. Keprihatinan yang mendalam terhadap bangsa ini harus dapat dirasakan oleh segenap warga negara, bukan justru melegalkan sistemnya. Tidakkah Indonesia malu menyandang gelar sebagai negara terkorup di urutan pertama se-Asia Pasifik dan ke-5 sedunia (Nusantara News, 2010)? Tidak ada yang membanggakan dari nilai korupsi selain malu dan kesengsaraaan rakyat. Degradasi moral yang terbentuk akibat korupsi dapat berakibat buruk di semua sektor. Korupsi besar sekalipun tidak akan terjadi seandainya akar korupsi yang sangat mendasar tidak kita temui. Sayangnya, penemuan koruptor kelas teri bertebaran dimana-mana dan sangat sulit dipisahkan dari kehidupan. Penulis memang bukan orang hukum, tetapi melihat kenyataan berbasis pengalaman (empirik), sikap dan mental koruptor masih sangat kental mewarnai Indonesia.

Menangani masalah yang sudah terlanjur mengakar, pembentukan mental anti-korupsi sudah harus dimulai detik ini juga. Mahasiswa mungkin sering berteriak lantang menentang dan mengecam tindakan korupsi di Indonesia, tapi mereka akan menjadi orang munafik seandainya mereka masih seringkali menyelesaikan masalah tilang-menilang seperti kasus Arifin di awal cerita. Mereka akan dipermalukan oleh idealisme mereka sendiri jika masih mencerminkan sikap korupsi yang sepele dan terlihat lumrah.
Semua yang dipaparkan hanya sebentuk tulisan. Saran dan kritik ini tidak akan memberikan dampak positif apa pun jika tidak ada yang mau memulai perubahan. Bahkan terkesan menjadi tumpukan konsep yang tidak pernah terwujud secara nyata. Mulailah, minimal dengan perubahan kecil yang tertanam dalam diri masing-masing. Harapan itu selalu ada.

Semoga.

pernah masuk ke Forum Indonesia Muda IX, tapi ditolak!!! wkwkwkwk...

Sabtu, 01 Mei 2010

Kawan, ini Cerpen yang masuk Finalis lomba pena cerdas KFC... ga menang sih, cuma ya mau share aja.... kalu ada brand KFC di dalemnya, itu semata2 karena tuntutan syarat aja, so jangan Heran!! ^^

Seratus Meter dari Restoran MahaKaya Itu

Ketiga orang itu panik melihat tubuhnya terkapar lemas. Sayup-sayup terdengar lenguhan nafasnya bergetar pelan, sampai tak terdengar sama sekali.
“Gimana nih bang, kok sampe mati gini?” suara itu memberat, bergetar.
Langit senja membahana, kali ini warnanya kelabu. Seolah bumi dan langit memberi tanda. Sorot mata gadis itu melemah. Raganya remuk di pangkuan jalan.
Tangannya menjatuhkan boneka kecil yang sedari tadi ia genggam.
***
Nifah menyandarkan tubuhnya pada tembok bangunan. Panas menyengat, tak membuatnya bergeming. Gadis lima belas tahun ini terlahir dari keluarga terpuruk yang terkucilkan. Setiap sudut jalan yang ramai pengunjung, dia lakoni peran sebagai gadis kecil dengan segenggam gelas softdrink yang memelas meminta santunan dari setiap orang yang lalu lalang. Bau keringat, debu yang melekat tidak dia hiraukan karena memang ini bagian dari aset sempurna untuk melengkapai tubuhnya agar terlihat memprihatinkan. Dalam kemiskinan yang mendera ini, dia masih bertahan hidup. Tak pernah sekalipun dia mencicipi daging impor dari sebuah restoran untuk mereka yang MahaKaya, seratus meter di depan tempatnya duduk.
Tatapannya sayu, membuat para pejalan kaki yang lewat di depannya iba, lalu jatuhlah beberapa gemerincing koin logam mengisi gelas softdrink bekas. Nifah tersenyum. “Terima kasih pak, moga diberkahi”.
Nifah tidak peduli apa kata orang, mengemis yang katanya pekerjaan orang-orang malas, mengganggu pejalan kaki atau bahkan orang-orang yang berbohong hanya untuk mendapat untung lebih berlipat daripada berjualan. Kalaupun mereka peduli padanya, Nifah tidak harus berada di tempat ini. Dunia mungkin tidak berpihak padanya. Gadis kecil ini justru berada di dunia kelabu yang keras. Sedikitpun ia tidak mendapat tempat untuk kebebasan.
***
Senja tiba. Di bawah kaki-kaki beton raksasa nan-angkuh yang menopang kendaraan berat beroda dengan alas kasar, Nifah beranjak kembali ke peraduannya. Tempat itu disulap menjadi perkampungan kecil yang diisi orang-orang senasib. Sandal jepit yang dipakainya terseok-seok membawanya pulang.
Sambutan hangat sesosok makhluk kecil di depan gang membuat hari-harinya yang begitu berat seolah hilang. Dedek, adik lelaki satu-satunya itu merupakan mozaik berharga yang membuatnya tetap bertahan.
“Kakak hali ini Beli apa buat dedek?” tanyanya polos merengek. Nifah tersenyum, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil kembang gula yang dibelinya saat perjalanan pulang. Dedek begitu senang dengan pemberian itu, serta merta dipeluknya tubuh sang kakak yang kumal, menarik tangannya, pulang.
***
Ibu sudah tiga tahun pergi. Wanita itu meninggalkan hutang yang tidak sedikit. Pak Har yang menjadi penadah hutangnya berulang kali ‘menjenguk’ Nifah untuk menagih. Bergidik Nifah dibuatnya. Lelaki sangar tak berperasaan itu acapkali memaki dengan gaya khas seperti makhluk jadi-jadian yang meminta nyawa. Dari mulutnya terlontar ancaman seandainya Nifah belum bersedia melunasinya, karena memang dia tak mampu.
“Hutang Ibumu terlalu banyak! Aku tidak peduli, sekarang kau yang bertanggungjawab atas semua pembayaran ini!”
Ada titik jenuh setiap kali makian dan ancaman terus menerus dilontarkan Pak Har. Hanya saja, Nifah tersudut sebagai pihak bersalah yang tidak berhak melawan.
Tuhan, kapan aku selesai diuji?
Sampai hati ibunya pergi meninggalkan anaknya dengan warisan uang berlimpah. Ya, uang berlimpah yang dia dapatkan dari berhutang, yang kini menjadi awal penderitaan Nifah.
***
“Kakak, tadi Dedek liat di tv ada ayam goleng enak, ada di KFC. Dedek mau, beliin yah?” dengan nadanya yang cadel Dedek merengek.
Permintaan yang sungguh berat buat Nifah. Berulang kali dia menghela nafas.
“Dek, yang di tv itu ‘gak enak lho, harganya mahal lagi. Mendingan kita beli nasi goreng Pak Taher di seberang jalan, mau kan?” Nifah berusaha membujuk adikknya.
“Kakak bohong, masa’ altis makan yang ga enak? Itu di tv aja, makannya senyum-senyum gitu”
“Tapi dek…”
“Kakak Jahat, ga sayang Dedek!”
Dedek memotong. Raut wajahnya mengerut, hampir saja dia menangis. Nifah menyerah.
“Iya deh, kakak beliin, tapi gak hari ini loh, nanti, kakak mesti nabung dulu.”
Mendengar itu, Dedek kembali tersenyum. Tanpa banyak protes pun, dia mengerti meski kakaknya menjawab dengan kata ‘nanti’.
***
Ribuan orang yang berlalu lalang memadati tempat Nifah duduk. Hanya segelintir yang menatap iba dirinya, kemudian merogoh saku demi mengeluarkan receh yang bergemerincing. Seratus meter dari tempatnya duduk, persis berdiri restoran MahaKaya KFC. Selama ini, dia tidak pernah peduli tempat itu, bagi Nifah KFC hanyalah tempat khusus orang-orang bersepatu, berpakaian resmi nan modis, dan terlihat berduit. Kali ini, demi memenuhi keinginan adiknya, Nifah mencoba mendekati restoran cepat saji itu, untuk sekedar observasi. Jendela kacanya transparan, memamerkan isi di dalamnya. Meja yang tersusun rapi dengan pelayan-pelayan dengan seragam khusus, Yang paling menarik perhatiannya yaitu replika patung ayam raksasa setinggi orang dewasa dengan perut buncit. Belakangan dia tahu namanya Chaki, dan dia jantan.
Orang-orang disana sibuk menggigiti ayam goreng dengan balutan tepung yang dia sendiri tidak pernah tahu berapa lapis tebalnya dari kulit, belum lagi suara berisik menyedot minuman berwarna coklat di dalamnya, dengan gelas softdrink persis sama dengan yang dipakainya menadahkan uang . Seketika Nifah tergoda, restoran MahaKaya itu memang ajaib di penglihatannya.
***
Cukup lama Nifah mematung di depan kaca, hingga akhirnya dia kembali. Hebatnya… pikiran Nifah melayang. Pantas saja Dedek begitu bersikeras minta dibelikan.
Gemerincing logam di gelas bekas softdrinknya membuyarkan lamunan. Nifah sekarang mengharap ada orang dermawan melemparkan kertas merah seratus ribuan ke arahnya. Hanya berangan-angan.
“Hei, melamun aja! Mikirin apa sih?”
Hardi, teman sesama pengemis mengagetkannya. Nifah terdiam. Matanya seolah tertarik ke arah restoran MahaKaya itu, dan membuat sedikit penasaran Hardi.
“Mikirin bisa makan di tempat itu ya? Jangan mimpi! Kita ni orang kecil, makan aja udah untung! Cuma orang berduit yang bisa kesana. Udah ah, bangun!”
Kata-katanya tajam, tapi pasti.
“Gembel macam kita gak akan dapat tempat,” tambahnya.
“Kemaren adikku merengek, pengin banget ayam goreng KFC katanya. Aku jadi bingung.”
Sorot mata Nifah kembali dalam realita sebagai pengemis dengan gemerincing uang receh. Ada benarnya juga mungkin. Lambat laun dia memahami arti kata ‘gembel’. Seseorang dengan batas teritorial antara si Kaya dan si Miskin, dan itu mutlak.
***
Nifah hampir saja melupakan janjinya pada Dedek, kalau saja Dedek tidak mengingatkannya lagi.
“Mana kak, udah seminggu Dedek tungguin, ko kakak ga bawa ayam golengnya?”
“Nanti” Ujarnya pendek.
Dedek menanggapinya dengan kecewa.
“Tapi kakak gak lupa kan? Kakak sayang kan sama Dedek?”
Luluh dia mendengarnya.
Kali ini Nifah tidak dapat berkata-kata. Bohlam lima watt yang meneranginya seolah redup. Lama dia memandangi Dedek, satu-satunya mozaik kehidupan yang dia miliki.
Lidahnya kelu. Apa salahnya membuat Dedek tersenyum? Aku tidak punya apa-apa lagi selain dia. Biarlah, hanya untuknya aku akan berusaha.
***
Pukul dua belas. Matahari menyengat, samar-samar hanya dilindungi segumpal awan kecil. Langit tampak pelit hari ini. Nifah masih di tempat duduknya,tetap dengan gelas bekas softdrinknya yang setia, sambil menatap seratus meter dari jarak pandangnya.
Dua puluh lima ribu. Mungkin cukup untuk membeli satu porsi.
Nifah menghela nafas panjang. Dikuatkannya hati untuk melangkah maju.
“Di, temani aku ke restoran MahaKaya itu ya?”
Hardi terdiam. Istilah minder lebih tepat digambarkan dalam suasana hatinya. Kumal dan berdebu, dari dandanan ini pun terlihat mencolok bahwa tak pantas dia beranjak.
“Demi adikku!” pinta Nifah lagi.
Hardi menggeleng. “Lebih baik kau urungkan niatmu, Nif. Kau lupa dengan apa yang kukatakan tempo hari? Kita ni orang kecil, digebuk satpam baru tahu rasa kau!”
Bisa saja Nifah pergi sendiri tanpa Hardi, tapi keraguan memang masih menyelimuti dirinya. Setidaknya, dia perlu back-up.Nifah tak habis akal.
“Tolonglah Di. Temani aku kesana, sebentar saja. Bagaimana kalau lima puluh persen hasil kerjaku hari ini kubagi?”
Hardi masih diam.
“Baiklah, seratus persen!!” hilang sudah kesabarannya. Bisa jadi, hari ini mungkin akan jadi hari sial dalam hidup Nifah. Dirampok teman sendiri. Sedetik kemudian Nifah mengamati raut wajah sahabatnya itu. Senyum licik tersungging begitu indah, cerah sekali ketika Nifah mengucapkan kalimat berduit.
Sial!
Nifah menggerutu dalam hati, Matre juga kawanku yang satu ini.
***
Biasanya, satpam akan selalu membuka pintu jika ada pelanggan masuk. Intinya, dia tidak mau pelanggan bersusah payah mendorong. Sebuah service yang khas. Namun tidak bagi pelanggan kumal macam Nifah dan Hardi. Satpam itu menatap mereka risih.
“Mau apa kalian berdua? Ini bukan tempat gembel, pergi!” hardiknya keras.
Nifah sempat bergetar menelan hardikannya. Dijawabnya dengan polos.
“Kami mau masuk pak. Beli ayam goreng.”
Satpam itu melirik sinis, tatapannya seolah mengejek.
“Tolonglah pak!”, ucap Nifah memelas.
“Lebih baik kalian pergi, tamu-tamu disini terganggu jadinya.”
Pria kekar ini hampir membuat semangat Nifah kendur.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi, haruskah dia mundur?
Nifah nekat, dia menerobos masuk, segera mendekati pelayan cantik bertopi merah tanpa tutup di kepala itu. Biarkan saja, aku tidak berniat mencuri ataupun mengemis disini.
Satpam barusan geram. Kerah baju mereka ditarik, menyeret tanpa ampun keluar.
“STOP!”
Satpam itu berhenti. Seorang pria berdasi memberi isyarat agar melepaskan Nifah dan Hardi. Pria itu menghampiri mereka berdua.
“Baiklah, coba kalian jelaskan, ada apa dan mau apa kalian kemari?” tanyanya halus.
Nifah berusaha menjelaskan kalau dirinya hanya ingin membeli, itu saja. Bukan untuk mengemis ataupun mencuri.
“Kami punya uang kok pak, tolong jangan usir kami.”
Nifah menunjukkan tas kumal berisi uang yang susah payah dia kumpulkan. Receh, tanpa selembar pun uang kertas,dan jumlahnya ratusan. Pria berdasi itu tersenyum melihatnya, atau lebih tepatnya, seperti tertawa menatap recehan yang mungkin tidak berharga baginya. Dia mendekati pelayan dan sedikit berbicara, sang pelayan dengan cepat membungkus dua paket ayam goreng untuk Nifah dan Hardi.
“Ini!”
Tangannya menyodorkan bungkusan itu. Mereka berdua senang bukan kepalang, ditambah lagi dia menyerahkan dua boneka kecil ayam jantan yang lucu. Nifah menyodorkan uangnya, tapi pria berdasi itu menolak dengan halus. “Untuk jajan saja.”
Hilang sudah anggapan Nifah bahwa restoran MahaKaya ini hanya untuk mereka yang MahaKaya. Hari ini, batas territorial si Kaya dan si Miskin retak.
***
Bagi sebagian besar orang, kejadian ini hanyalah masalah kecil yang mungkin tidak berharga. Beli, dan pulang. Tidak bagi Nifah. Baginya, ini merupakan esensi dari sebuah perjuangan. Hal sepele dapat menjadi luar biasa bagi orang yang terlibat di dalamnya.
Nifah menyodorkan kantung uang yang semula akan dia belikan ayam goreng KFC tadi kepada Hardi, sebagai bentuk janji siang tadi.
“Ambillah, sepertinya ini cukup mewakili janjiku untuk memeberikan hasil kerjaku hari ini.”
***
Tujuannya hanya satu, rumah. Sepanjang perjalanan Nifah merencanakan akan memberikan surprise terindah bagi adiknya. Dia akan memainkan peran sebagai kakak yang pura-pura gagal memenuhi janji adiknya. Pastinya akan membuat Dedek kecewa. Saat hampir menangis karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, Nifah akan memberikan boneka Chaki, dan dengan serta merta menyodorkan pesanan adiknya itu. Pasti Dedek akan senang.
Bergegas dia pergi. Matahari sore menukik tajam, menyilaukan mega kuning yang sedikit gelap, tanda senja tiba. Batinnya sunnguh bahagia kala itu. Setidaknya, sebelum dia sempat meniti jalan di bawah kolong jembatan tempat dia tinggal.
Langkahnya terhenti. Hanya tinggal beberapa puluh meter lagi. Di depannya, Pak Har telah berdiri, mencegat perjalanannya. Tidak sendiri, dia bersama dua orang bertubuh kekar. Pak Har tampak marah.
“Ini sudah hari ke duapuluh empat. Kapan kau akan membayar?”
Nifah gentar. Beberapa hari memang dia sengaja menghindari Pak Hark arena memang sampai saat ini dia masih belum punya uang cukup untuk melunasi hutang-hutang ibunya.
“Ma… maaf pak. Sa.. say.. saya belum pu.. punya.. uang.”
Kalimatnya terbata-bata.
Pak Har geram. Mukanya merah padam. Sempat dia melirik bungkusan yang kubawa.
“Bagus. Kau bilang tak punya uang. Lantas apa yang kau pegang itu kalau kau tidak tukar dengan uang, bocah?”
“Ini untuk adik saya Pak.”
Laki-laki di belakangnya berusaha merebut bungkusan itu dari tangan Nifah.
“Heh, denger! Gembel macam kamu gak pantas beli makanan mahal ini. Sok kaya kamu!”
Tidak terima dengan perlakuannya, lengan kekar lelaki itu digigitnya keras-keras. Dia meraung kesakitan. Pak Har makin geram.
Dia mencabut belati dari sarungnya. Nifah kaget, tidak disangka Pak Har akan nekat. Mereka sama sekali tidak melihat Nifah sebagai sosok gadis kecil lima belas tahun. Tubuhnya terhimpit dalam lorong gelap mengancam. Kepalan tinju sesaat membuatnya roboh tidak berdaya. Nifah lemas saat melihat hidungnya bersimbah darah, namun dia tetap mempertahankan genggamannya.
Pak Har kalap. Kali ini tendangan menghujam dagu Nifah. Getaran hebat terasa sampai sekujur tubuhnya. Mati rasa, tubuhnya terkulai.
“Berani kamu main-main denganku ya? Ibumu memang tidak berguna!”
“Abisin aja, bang!”
Nifah menjerit dalam hati. Matanya memelas, memohon ampun. Belati itu bermain-main di tubuhnya, dan tanpa belas kasihan bersarang di perutnya. Bagai tersengat listrik, Nifah menjadi manusia paling tidak berdaya di hadapan orang-orang tidak berperikemanusiaan ini.
Maafkan… kakak, tidak bisa memenuhi janji.
Langit senja merintih. Pandangan Nifah mengabur. Semuanya gelap.
***

Kamis, 18 Maret 2010

I'll Try to publish my short story... Hope'll gonna be happy to the apreciators...

Memulai dari Akhir


Elvan merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda. Tidak jelas bagaimana dia mendeskripsikannya, hanya ada perasaan mendecak dalam hati. Bagai kuntum bunga mawar yang singgah dengan harumnya yang semerbak, mengelilingi dirinya di setiap waktu. Dia sadar, cinta telah merasuki jiwanya.

Gadis itu, sering dia melihatnya duduk bersandar pada bangku taman, berbarengan dengan hiasan alam pepohonan yang memang sengaja ditata cantik. Sesekali Elvan berusaha mencuri pandang dari kejauhan.

“Nora”, sapanya ramah memperkenalkan diri.


Matanya bulat, pancarannya sungguh bening dan teduh, persis riakan air yang seakan-akan bisa berenang di dalamnya. Elvan tersenyum. Jabatan tangannya mensiratkan bahwa dia sungguh kagum dengan makhluk Hawa di depannya.

Mereka saling mengenal ketika secara tidak sengaja mengikuti kegiatan pembelajaran anak-anak SD di salah satu desa binaan. Tanpa kesulitan mereka menjadi akrab. Di selingi tawa dan canda, pengalaman-pengalaman yang berkesan membalut pertemuan mereka.

Ternyata, bukan hanya Elvan yang berdesir hatinya. Gadis itu pun merasakan sesuatu yang membahana, mengisi relung hatinya yang terdalam. Nora jatuh cinta pada lelaki itu. pertemuan mereka mungkin terasa singkat, namun tersirat kesan mendalam di hati keduanya. Kedua insan itu sama-sama tercuri hatinya, entah siapa pencuri pertama. Mereka saling diam dengan khayalan masing-masing di benak mereka.

Nora tampak memandangi foto-foto yang dia dapatkan saat dirinya berada di desa binaan. Iseng-iseng, dia mencari-cari foto Elvan. Wajahnya tersenyum puas, mendapati foto teman baru yang dikenalnya itu. Sesekali mukanya merona seperti tomat masak. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Cepat-cepat dia membuka logbook kepanitiaan, memastikan angka-angka yang terselip di dalamnya.
Elvan Khazanatullah, dapat!
***

“Udah samperin aja sana. Kita tau kok, kamu naksir dia.”

Teman-teman yang juga satu tim ketika itu melihat gelagat Elvan yang sedikit aneh, mulai memahami dirinya bahwa sang Adam ini tengah berlayar di danau asmara. Gurauan memberondong Elvan, menggoda tiada henti.

“Iya, Nora cantik loh. Masa mau dibiarin!”
“Didukung seratus persen deh, bos. Tenang aja!”

Elvan hanya tersipu malu menanggapinya. Hatinya membenarkan. Malam itu, bintang pun berkelip genit seakan menghakimi. Wajah Nora terlukis di pandangannya. Sedetik kemudian, dering HP membuyarkan lamunannya.

Temui aku di taman, besok jam 9. Nora.

Saat sadar siapa pengirimnya, dia beranjak. Nora? Seperti ada sesuatu yang merasuk jiwanya, Elvan terkaget-kaget.
Bagaimana dia tahu nomorku?

Seingatnya, dia tidak pernah bertukar nomor. Pikiran itu ditepisnya. Layar di HP terpampang jelas sekali nama pengrimnya, Nora. Tanpa banyak menunggu waktu lagi, Elvan bersiap diri.
***

Taman masih sepi orang. Mungkin karena ini jam kerja, tidak banyak orang hilir mudik menghabiskan waktu disni. Elvan gelisah, jam sembilan lebih lima menit, Nora belum datang juga.
Apa pesannya salah kirim?
Elvan masih bersabar. Matanya awas memandangi setiap sudut taman, berharap gadis itu cepat datang.
09.30

Wajahnya merah padam. Elvan memang paling tidak suka dengan keterlambatan. Dia hampir saja beranjak pergi, ketika uluran tangan mencengkram bahunya.

“Maaf, aku sebenarnya sudah melihatmu dari tadi, hanya ingin memastikan.” Senyum Nora terkembang. Rasa bersalah sedikit menghiasi wajahnya. Elvan kembali duduk.
“Ikutlah denganku.” Katanya lagi. Nora menarik tangan Elvan dengan lembut,
mengajaknya mengitari taman. Pikirannya tumpah ruah di hadapan lelaki itu. tersirat rasa senang di balik senyumnya yang terkembang. Baginya, Elvan pria yang low profile dan asyik.

Banyak kata yang seharusnya diucapkan hari ini. Sehari bersama Nora, sedikitpun Elvan tidak melepaskan pandangannya. Sejujurnya, dia merasa sumringah dengan kejadian hari ini. Betapa tidak, wanita yang selalu ada di pikirannya itu seolah memberi lampu hijau untuk didekati. Hanya saja, Elvan belum dapat mengungkapkan perasaannya. Lidahnya masih kelu.
***

Benaknya disesaki bayang pria itu. Ingin rasanya dia mendengar ada senandung cinta dari mulut Elvan. Kalau saja dia tahu Elvan juga mencintainya, tidak akan sulit. Cukup bagi Nora untuk mengungkapkan perasaannya lewat sikap.
Biarkan Elvan yang memulai. Harusnya dia tahu itu.
Sekarang dia hanya bisa berharap. Nora tidak ingin menebak-nebak terlalu jauh.

Mereka masih terdiam, terkekang oleh rasa egois masing-masing. Sampai saat ini Elvan tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan sebentuk kasih pada orang yang tengah dicintainya itu. Sulit, bukan tidak ingin. Setiap kali mereka bersama, sekedar menyapa ataupun mengobrol, Nora seakan belum menemukan reaksi balik dari lelaki yang diharapkannya itu.
Apa yang kau tunggu, van? Curi hatiku!

Nyatanya, meski berusaha memancing suasana, Nora belum yakin dengan hati Elvan. Meskipun dia tahu Elvan selalu menjadi pendengar sejati bila dia sedang mengutarakan masalahnya, menemaninya di waktu senggang, atau sekedar melihatnya tersenyum di dekatnya. Semua itu belum tampak di mata Nora sebagai bentuk cinta. Nora mulai gelisah.

Apa aku cuma teman di matanya?
***

“Aku sering melihatmu bersama Nora, sepertinya sudah mulai ada perkembangan ya?”
Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Elvan.

“Iya. tapi… aku masih tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.”

Temannya terdiam. Dia mengenal Elvan sebagai seorang lelaki yang cerdas mengambil sikap. Tapi untuk urusan asmara, tidak pernah ada yang menduga.

“Kau tahu…” katanya berusaha meyakinkan.
“Perempuan butuh kepastian. Jangan kau membuatnya menunggu, apalagi mengecewakan.”
“Apa dia mencintaiku?” jawab Elvan ragu.
“Kesempatan tidak akan datang jika tidak dicoba. Kenapa kau harus bertanya, sementara jawabannya belum kau temukan disana?”

Elvan mengangguk paham. Tapi dia masih perlu waktu untuk mengumpulkan keberaniannya. Entah sampai kapan dia akan siap.
***

Hampir tujuh bulan sudah, kebersamaan mereka terasa semu. Cintanya jalan di tempat. Nora mulai menangkap kesimpulan, dirinya tidak pernah spesial di mata Elvan. Teman, hanya sekedar teman. Gadis itu masih berharap jauh, hingga akhirnya dia harus menyerah pada waktu. Kepastian tidak pernah berpihak padanya. Ingin rasanya dia menghampiri Elvan, menyatakan perasaannya selama ini, tapi niat itu diurungkannya. Dia muak.

Kenapa harus aku yang terus mengawali? Tidakkah dia paham perasaanku?

Elvan tidak pernah tahu, gadis yang diharapkannya itu kini telah salah paham dengan perasaannya. Cinta Elvan tidak pernah berpaling sedetik pun pada Nora, tapi kepercayaan diri itu tidak pernah tampak hingga dia sadar, sebuah kesalahan menjadi akhir dari segalanya.

Di sudut kamar Nora berusaha menahan air mata yang membasahi pipinya, tapi tetap saja tak dapat dia bendung. Perasaannya campur aduk, puting beliung di hatinya berkecamuk. Dering HP tiba-tiba berbunyi membuyarkan kegelisahannya.
Temui aku di taman, besok jam 9. Elvan.

Nora beranjak dari tempat tidur sambil menyeka air mata. Elvan? Lelaki itu kini mengawali, setelah sekian lama Nora yang terus menerus menghubunginya.

Kemana saja kau, Van?
***

Taman masih sepi, sama seperti pertama kali Nora mengajak Elvan bertemu. Angin pagi menghembuskan nafas kerinduan. Mata Nora yang bulat masih terlihat teduh, dan makin cantik. Kini Elvan tidak dapat menyembunyikan perasaannya lagi.
“Sudah lama tidak bertemu ya?”

Nora masih terdiam sejenak. Matanya lekat memperhatikan Elvan. Betapa dia merindukan lelaki itu.

“Kau memang tidak pernah menghubungiku. Hanya kali ini saja kau berani. Ada apa, Van?”

Pertanyaan Nora seolah menyiratkan kejengkelannya. Elvan masih belum peka, tapi hari ini, keberaniannya sudah memuncak. Bertahta pada satu keputusan hati.

“Aku tidak punya alasan lain untukmu. Dengar aku, Nora. aku begitu mencintaimu.”
Terlontar juga.

Nora tidak langsung bereaksi. Kata-kata itu, kata-kata yang selalu dia harapkan. Matanya hampir berkaca-kaca, namun sedetik kemudian dia berusaha tetap tenang.

“Kenapa baru sekarang, Van? Harusnya kau katakan itu dari dulu.”

Jadi benar, dia juga mencintaiku?

“Mana keberanianmu selama ini?” lanjut Nora. Kali ini kata-katanya menantang Elvan.

“Maafkan aku, Nora. Hanya saja. Aku bingung bagaimana mengungkapkannya. Sebutlah aku bodoh, tapi yang jelas aku ingin tahu, apa perasaan kita sama?” Ungkapnya.

Nora mengangguk. Sejujurnya, dia ingin memaki kebodohan Elvan dan kebodohan dirinya. Kebodohan Elvan karena terlalu pengecut, dan kebodohannya untuk tidak berterus terang. Mestinya anggapan diri bahwa perempuan tidak layak mengungkapkan perasaan itu dia kesampingkan.

Jika dia mau, bisa saja Nora berlari memeluk Elvan, menangis sejadi-jadinya, membiarkan Elvan mencium keningnya sebagai tanda sayang padanya. Tapi Nora tidak mungkin mengingkari keputusan yang dibuatnya.
Kenapa tidak dari dulu, Van?

Perasaan Elvan hampir berada di puncak langit kebahagiaan saat Nora mengangguk tanda ‘iya’. dia hampir mengalahkan perasaannya selama ini, perasaan terpendam yang ditunda-tundanya terus. Namun dia harus berhadapan dengan kenyataan.

“Waktu tidak pernah bisa menolerir keadaan. Dan kau tahu, Van? Manusia tidak bisa memulai dari akhir.”

Dari balik tas, Nora mengeluarkan kertas persegi panjang dengan bungkusan plastik. Saat Elvan menerimanya, lututnya terasa lemas. Pijakan kakinya seakan tidak lagi menyentuh bumi. Langit seakan mau runtuh saat dia membaca nama yang tercantum di atasnya.

M E N I K A H
Nora Kamalia Utami dan Satria Wijaya
24 February, 2010

Senin, 01 Februari 2010

Beranilah bermimpi

Berbicara tentang mimpi, dia adalah suatu kekuatan mahadahsyat yang dapat membuat orang selalu ingin menggapainya. Dan saya yakin, mimpi tidak pernah merupakan sesuatu hal yang buruk, sebab mimpi merupakan perwujudan seseorang untuk terus berharap dan berkeyakinan. Adakalanya memang mimpi terlalu muluk sehingga mendapat kesan terlecehkan oleh banyak orang.

Sebenarnya, itu bukan suatu kemustahilan, apabila sugesti yang tertanam dalam diri kita dapat dilansir mennjadi sebuah kemauan, kemustahilan pun akan Nampak nyata bagi para pemimpi. Memang, inspirasi akan sang pemimpi saya kutip dari novel Andrea Hirata yang member saya inspirasi tuk berbagi sambil menjalankannya. Seperti kata Arai: “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Bagi yang percaya akan kekuatan mimpi, ia akan menjadi pedang yang terhunus di depan benteng pertahanan setiap musuh di depannya, sebagai obor api yang menaungi napak tilas perjalanan nan gulita, atau sebagai mata bor yang memecah kerasnya lapisan batu di bawah permukaan bumi. Semua, bermula dari mimpi.



Lalu, bagaimana dengan pepatah orang yang menyatakan: “berhentilah bermimpi, saatnya bergerak!”. Apakah berarti kita harus tertindas melihat harapan yang kita pegang sia-sia. Menurut saya, tidak! Mimpi dapat dianalogikan sebagai kunci dari pintu kehendak. Sebab jika tanpa motivasi, mustahil kita berbuat dengan sangat terencana. Mimpi bukanlah khayalan yang mengawang-awang dengan semboyan ‘andai saja’, ‘jika mungkin’, ‘kalau saja’, atau kata-kata senada seperti tadi. Bagi saya, mimpi merupakan suatu keharusan, kemampuan otak, dan kehendak yang tegar. Sadar ataupun tidak, kekuatan mahadahsyat mimpi itu mampu dimiliki orang dengan tidak memandang strata manapun.

Kekuatan itulah yang senantiasa membawa seorang mujahid rela mati, karena punya mimpi untuk bertemu Tuhannya di Surga. Kekuatan itulah yang menjadi tekad seorang Soekarno menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia, karena memiliki mimpi besar untuk negaranya, ataupun seperti mimpi-mimpi kecil yang menghantarkan Ihsan dan Aris dari seorang miskin pedesaan yang tinggal di tempat yang tak layak menjadi idola yang dinantikan orang, karena mereka bermimpi, untuk dirinya, dan keluarganya. Lantas, apa yang kita tunggu? Berikan yang terbaik untuk diri kita. Bukan sebuah rasa aman yang diperlukan, tetapi tantangan besar untuk berani bermimpi. Apapun, saya katakana sekali lagi, apapun mimpi anda, yakinkan diri bahwa kita memang layak sebagai makhluk tuhan, satu-satunya makhluk Tuhan yang diberi akal untuk berbuat besar! Renggut ia, capai ia, karena mimpi anda adalah nyawa di setiap aliran nafas anda!

Nah, kalau begitu, pertanyaannya...Apa mimpi anda?